Selasa, 27 Oktober 2009

[proletar] Aktivitas Gunung Berapi dan Gempa Bumi

Secara fisis menunjukkan kondisi batuan kerak bumi di bawah Bali sangat mudah
patah dan tidak mampu menampung akumulasi stres batuan yang terlalu besar.
Keadaan semacam ini justru pertanda baik dalam perspektif keselamatan umat
manusia khususnya masyarakat Bali. Karena dengan kondisi batuan yang mudah
melepaskan stres yang dimanifestasikan dalam renteten gempa bumi kecil berarti
akumulasi stres batuan yang ada di berbagai kawasan di Bali mudah untuk
dilepaskan. Sehingga kecil kemungkinan batuan akan mengalami akumulasi stres
cukup lama yang akan menyebabkan gempa besar dan merusak.



Aktivitas Gunung Berapi dan Gempa Bumi
Oleh Daryono, S.Si., M.Si.

GEMPA bumi yang secara beruntun mengguncang kawasan Bali sejak awal 2005 hingga
terjadinya gempa Karangasem pada Selasa (1/3) dan gempa selatan Nusa Penida,
Rabu (2/3), adalah murni aktivitas gempa tektonik yang tidak memiliki
keterkaitan secara langsung dengan aktivitas vulkanisme Gunung Agung (3.142 m).
Gempa bumi dangkal dengan kekuatan 3 hingga 4 skala Richter di kawasan Selat
Lombok secara historis sudah biasa terjadi, karena kawasan ini memang dikenal
sebagai kawasan seismik paling aktif di Bali akibat adanya aktivitas patahan
lokal.



Secara umum gempa bumi dapat dibedakan dalam empat jenis: gempa tektonik, gempa
vulkanik, gempa runtuhan dan gempa akibat ledakan nuklir. Jenis-jenis gempa
bumi tersebut masing-masing memiliki perbedaan disebabkan oleh faktor
penyebabnya.

Gempa tektonik disebabkan oleh adanya aktivitas lempeng tektonik, baik berupa
aktivitas benturan antarlempeng maupun aktivitas patahan-patahan aktif. Gempa
tektonik memiliki daya rusak yang dahsyat bila energi yang terpancar dari pusat
gempanya besar dengan kedalaman dangkal.

Di Bali gempa tektonik disebabkan oleh benturan lempeng Indo-Australia dari
selatan dan lempeng Eurasia yang pertemuannya berada di Samudera Hindia kurang
lebih 200 km di selatan pesisir selatan Bali. Selain karena aktivitas benturan
lempeng, gempa bumi yang terjadi di Bali juga dibangkitkan oleh aktivitas
patahan lokal dan patahan aktif busur belakang kepulauan di utara Bali yang
populer dikenal sebagai Bali Back-arc Thrust.

Sementara gempa vulkanik disebabkan oleh aktivitas gunung api. Gempa vulkanik
biasanya memiliki kekuatan yang tidak terlalu besar hanya dalam bentuk
getaran-getaran yang dirasakan dalam skala sangat lokal di kawasan badan
gunung. Terkadang gempa vulkanik ini, karena kecilnya energi yang dipancarkan,
hanya terpantau oleh seismograf dalam catatan seismogram.



Gejala Awal


Merebaknya isu meletusnya Gunung Agung akhir-akhir ini sudah sangat meresahkan
masyarakat Bali. Padahal, tidak ada laporan dari Dinas Vulkanologi akan adanya
gejala peningkatan aktivitas Gunung Agung. Secara vulkanis, keluarnya asap
belerang dari kawah sebenarnya merupakan hal yang wajar dan normal mengingat
Gunung Agung adalah gunung berapi yang masih aktif. Di mana pun berada di dunia
ini semua gunung api yang masih aktif akan mengeluarkan asap belerang.

Dalam ilmu vulkanologi, secara umum gejala awal terjadi letusan gunung berapi
yang paling pokok adalah adanya getaran mekanik yang tercatat sebagai getaran
tremors akibat naiknya magma ke permukaan.

Gejala lain adalah adanya deformasi pada tubuh gunung api berupa penggembungan
tubuh gunung api, termasuk adanya perubahan kelerengan yang dapat dipantau
dengan instrumen khusus. Secara fisis juga dapat diamati munculnya gejala
hidrothermal seperti peningkatan discharge mata air panas, peningkatan
discharge uap dari fumarol, kenaikan suhu mata air panas dan adanya perubahan
kimia berupa peningkatan kandungan SO2 atau H2S.

Untuk menyatakan bahwa sebuah gunung berapi berada dalam keadaan bahaya dan
akan terjadi letusan bukanlah hal yang mudah karena harus melalui tahapan dan
prosedur pemantauan secara fisis dan visual yang cukup intensif. Pemonitoran
gunung api untuk menyatakan kondisi bahaya perlu menggunakan beberapa metode
untuk menentukan lokasi, tipe dan magnitude kegiatan.

Aktivitas seperti kegempaan vulkanik yang tidak normal (tidak biasa) dapat
diperkirakan akan mengakibatkan letusan. Bila demikian, berbagai studi
monitoring dan penyelidikan ilmiah yang menunjang untuk peramalan letusan dapat
dilakukan lebih akurat. Studi tersebut harus dirancang untuk menggambarkan
pusat gempa, menentukan lokasi dan kecepatan deformasi menentukan apakah ada
bodi magma pada lapisan kerak bumi bagian atas. Makin banyak kualitas, tipe dan
beraneka data yang diperoleh makin mendekati hasil interpretasi yang lebih
benar.

Secara umum pemantauan seismik adalah alat utama dalam pemonitoran gunung api.
Agar mendapat informasi kemungkinan letusan-letusan besar dari dapur magma yang
relatif dangkal perlu menggunakan rangkaian seismometer. Bila letak
hiposenternya dapat diketahui dengan baik, maka bentuk tubuh magma dapat
ditentukan berdasarkan kegempaan di sekelilingnya.

Pengamatan visual terdiri atas pengamatan tinggi asap, suhu solfatar, suhu air
kawah dan suhu air panas. Jadi bila ada perubahan mencolok dari pengamatan
visual tersebut perlu diwaspadai. Namun, semua gejala awal tersebut, tidak satu
pun terjadi pada Gunung Agung yang begitu heboh diisukan akan meletus oleh
masyarakat luas di Bali.



Pekembangan Terakhir


Memperhatikan perkembangan kondisi tektonik kawasan Bali dan sekitarnya, memang
sejak lima bulan terakhir menunjukkan adanya kenaikan tingkat aktivitas
kegempaan yang cukup signifikan. Berdasarkan data catatan gempa bumi yang
dipantau Pusat Gempa Regional III Bali, sejak awal tahun 2005 saja sudah empat
kali terjadi gempa terasa dalam berbagai variasi magnitude dan kedalaman.

Secara tektonik, adanya rentetan beberapa gempa terasa dalam skala itensitas II
hingga IV MMI (Modified Marcalli Intensity) yang mengguncang kawasan Bali
akhir-akhir ini menunjukkan karakteristik kondisi batuan kerak bumi yang cukup
''rapuh''. Secara fisis menunjukkan kondisi batuan kerak bumi di bawah Bali
sangat mudah patah dan tidak mampu menampung akumulasi stres batuan yang
terlalu besar.

Keadaan semacam ini justru pertanda baik dalam perspektif keselamatan umat
manusia khususnya masyarakat Bali. Karena dengan kondisi batuan yang mudah
melepaskan stres yang dimanifestasikan dalam renteten gempa bumi kecil berarti
akumulasi stres batuan yang ada di berbagai kawasan di Bali mudah untuk
dilepaskan. Sehingga kecil kemungkinan batuan akan mengalami akumulasi stres
cukup lama yang akan menyebabkan gempa besar dan merusak.

Secara teoretis, apabila di suatu kawasan sering terjadi gempa kecil maka
daerah tersebut justru akan relatif aman karena batuan di tempat tersebut tidak
sempat menampung stres yang akan menimbulkan gempa besar.

Kebalikannya, suatu daerah justru akan dinilai berbahaya dan berpotensi terjadi
gempa besar bila kawasan tersebut termasuk rawan gempa, namun sangat jarang
terjadi gempa atau sepi gempa. Karena daerah tersebut diduga sedang menyimpan
atau ''menabung'' stres batuan yang suatu saat akan dilepaskan sebagai gempa
besar dan merusak.

Kawasan semacam ini dalam seismologi disebut sebagai kawasn seismic gab yang
sangat berbahaya karena berpotensi membangkitkan gempa dengan skala magnitude
besar. Karena energi yang tersimpan dalam batuan telah terakumulasi sangat lama
disebabkan batuan di tempat tersebut memiliki tingkat elastisitas yang tinggi
dan tidak rapuh.

Sebagai contoh kasus kawasan seismic gab yang telah berhasil membangkitkan
gempa besar adalah kawasan Samudera Hindia sebelah barat Aceh. Berdasarkan
catatan kegempaan, kawasan tersebut dengan potensi kegempaan yang sangat
tinggi. Namun beberapa tahun terakhir, di kawasan tersebut sangat jarang gempa
terjadi sehingga gempa besar pada 26 Desember 2004 menyebabkan gelombang pasang
tsunami yang sangat dahsyat.

Sehingga patut disyukuri jika kawasan Bali sebagai daerah dengan tingkat
kerawanan seismik yang tinggi, namun memiliki karakteristik batuan tektonik
yang ''rapuh''. Sehingga dengan seringnya terjadi gempa kecil justru Bali akan
aman dan terhindar dari gempa yang besar dan merusak.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar